Inspiration StartupUncategorised

Apa itu Agile, Lean Startup, dan Design Thinking?

Bagi yang berkecimpung di dunia startup, kita sering mendengar beberapa jargon seperti Agile, Lean Startup, dan Design Thinking. Sebenarnya apa sih ketiga hal tersebut?, Apa perbedaannya?, dan konsep mana yang tepat untuk diterapkan di startup kita?

Agile

Konsep Agile pada awalnya muncul karena para developer seringkali berhadapan dengan kegagalan ketika membangun sebuah produk. Kegagalan ini disebabkan oleh over-planning, komunikasi yang kurang baik antar anggota tim, dan target pengembangan produk hingga mencapai kesempurnaan tanpa menanyakan feedback dari pengguna.

Para ahli kemudian merumuskan suatu pendekatan yang membuat proses pengembangan perangkat lunak dapat beradaptasi dengan baik ketika menghadapi perubahan, proses ini disebut Agile. Dengan Agile, developer diarahkan untuk dapat bekerja dalam siklus yang singkat, lalu kemudian merefleksikan pembelajaran, keberhasilan, dan juga kegagalan yang mereka alami dalam kurun waktu tersebut. Setelah menerapkan Agile, hasil yang diharapkan adalah para software developer dapat dengan mudah beradaptasi dengan kondisi yang sangat cepat berubah.

Lean Startup

Konsep Lean Startup adalah sebuah pendekatan untuk membangun sebuah bisnis yang mengedepankan eksperimen dan validated learning. Metode Lean Startup percaya bahwa setiap project yang kita lakukan adalah sebuah eksperimen yang dilaksanakan dalam siklus yang singkat. Mirip dengan Agile, setelah satu siklus eksperimen selesai dilakukan, setiap anggota tim merefleksikan kembali pembelajaran yang mereka dapatkan dari eksperimen tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan yang coba dijawab oleh tim saat fase refleksi adalah apakah pengguna menginginkan fitur yang akan dibangun dan rela membayar untuk fitur tersebut. Tim kemudian membuat keputusan berdasarkan data yang ada, apakah project akan dilanjutkan, atau pindah ke eksperimen lain.

Design Thinking

Design Thinking adalah suatu proses yang bertujuan untuk memahami user dalam rangka menciptakan suatu solusi yang inovatif. Metode Design Thinking terdiri dari 5 tahapan, yaitu Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Test. Design Thinking berguna khususnya ketika kita mencoba merumuskan solusi dari suatu masalah yang kompleks. Masalah yang coba diselesaikan umumnya memiliki banyak kemungkinan solusi, dan membutuhkan sumber daya yang besar untuk mengembangkannya.

——————

Menerapkan ketiga hal tersebut dalam proses pembuatan sebuah produk seringkali terasa membingungkan. Untuk itu, Jeff Gothelf, dalam bukunya Lean vs Agile vs Design Thinking, mencoba menguraikan prinsip-prinsip yang esensial untuk diterapkan dalam pengembangan sebuah produk berdasarkan ketiga prinsip tersebut.

Bekerja dalam siklus yang pendek (short cycle)

Pengembangan produk perangkat lunak seringkali sangat bergantung kepada pengguna. Kita tidak mungkin menebak reaksi pengguna terhadap produk yang kita kembangkan kecuali kita bertanya langsung kepada mereka.

Ketika kita sudah menghabiskan banyak sumber daya, mulai dari waktu, tenaga, dan biaya, untuk menyelesaikan proses pembuatan produk, namun ternyata pengguna produk tidak menggunakan produk tersebut, tentu sumber daya yang sudah kita keluarkan menjadi terbuang percuma.

Untuk itu penting bagi kita untuk membagi proses development menjadi beberapa siklus singkat, dan merefleksikan hasil proses development yang sudah dilakukan, baik di antara tim, maupun dengan bertanya kepada user. Refleksi tersebut dapat menjadi pembelajaran untuk development produk di siklus selanjutnya.

Rutin mengadakan retrospective antar anggota tim

Retrospective merupakan sesi untuk merefleksikan apa yang terjadi selama satu siklus terakhir. Melakukan retrospective adalah salah satu cara untuk menjaga tim kita selalu menerapkan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).

Adakan retrospective di akhir siklus agar setiap anggota tim dapat saling berdiskusi membicarakan apa saja yang terjadi, yang perlu dipertahankan, dan yang perlu diperbaiki dalam satu siklus terakhir.

Pada awalnya, melakukan retrospective terasa canggung bagi anggota tim. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, mereka akan merasa lebih terbiasa. Kalau dirasa perlu, kita juga bisa mengajak fasilitator di luar anggota tim yang netral dan objektif untuk membantu tim melakukan retrospective.

Pusatkan perhatian kita pada pengguna

Pengguna adalah mereka yang menggunakan produk kita. Ketika tim dihadapkan pada suatu kebingungan dalam mengambil keputusan, hal yang dapat kita lakukan adalah bertanya langsung kepada pengguna.

Pastikan produk yang kita bangun memiliki feedback loop yang baik. Tanyakan kepada pengguna pendapat mereka tentang produk kita, dan masukkan pendapat tersebut dalam sesi perencanaan di awal siklus sebagai acuan perbaikan produk ke depannya.

Lakukan riset dengan skala lebih kecil, namun dilakukan dengan intensitas yang lebih sering

Riset sudah terbukti dapat membantu memahami user dengan lebih baik. Tetapi terkadang riset membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit.

Untuk itu, cobalah melakukan riset dengan skala lebih kecil. Misalnya dibandingkan dengan melakukan riset untuk dengan partisipan sebanyak 12 orang, cobalah melakukan riset dengan partisipan sebanyak 3 orang, pelajari insight yang didapatkan, dan lanjutkan riset lagi minggu depannya dengan 3 orang partisipan. Publikasikan hasil riset kepada anggota tim setiap selesai melakukan riset.

Komunikasikan alasan dibalik sebuah kebijakan kepada anggota tim

Setiap anggota tim seringkali sudah memiliki cara kerja yang dianggap terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Untuk itu, ketika perusahaan menyarankan metode baru untuk melakukan pekerjaan, seringkali timbul penolakan dari anggota tim.

Sebagai langkah adaptasi metode baru, beberapa tahapan di bawah ini penting untuk dilakukan untuk memberikan pemahaman ke setiap anggota tim mengapa metode baru ini tepat untuk diterapkan.

Langkah awal adalah rutin mengadakan sesi retrospective untuk menjadi wadah bagi setiap tim menuangkan aspirasi tentang kesulitan yang mereka hadapi saat menerapkan metode baru tersebut.  Selanjutnya, buatlah goal yang jelas yang dapat diikuti oleh setiap anggota tim, dan tentukan cara yang tepat untuk mengukur keberhasilan anggota tim dalam meraih tujuan tersebut.

——————

Pada akhirnya, pengguna kita tidak peduli metode apa yang kita terapkan dalam membuat produk, yang mereka pedulikan adalah sebuah produk yang memiliki layanan yang baik dan dapat memecahkan masalah yang dihadapi di keseharian mereka.

Selama kita memperhatikan kebutuhan pengguna, berkomitmen untuk menciptakan sebuah produk yang bagus, dan memberikan insentif pada anggota tim yang menunjukkan kinerja yang baik, proses kerja tim akan berjalan dengan baik—yang membuat produk yang diciptakan juga dapat terlaksana dengan lebih baik.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close